Tantangan Yang Dihadapi Anak Homeschooling SMP

Homeschooling atau sekolah dari rumah merupakan jalur pendidikan alternatif yang dapat ditempuh oleh putra-putri Anda mulai dari jenjang SD hingga SMA. Banyak hal yang harus dipertimbangkan orang tua sebelum memutuskan homeschooling SMP untuk anak mereka. Seperti diketahui, anak usia SMP mulai memasuki usia remaja di mana gaya belajar mereka tentu berbeda dengan anak SD. Selain itu, usia SMP adalah masa di mana anak mulai beranjak dewasa dan belajar bertanggung jawab dengan pendidikan mereka.

Tantangan Homeschooling SMP

Sudah banyak pembahasan tentang kelebihan metode belajar homeschooling. Apalagi homeschooling bersifat fleksibel dan membuat anak lebih fokus belajar. Legalitasnya pun tak perlu ditanyakan lagi. Namun demikian, setiap hal pasti mempunyai dua sisi. Homeschooling juga memiliki beberapa kekurangan sebagai berikut.

Biaya Relatif Mahal

Dibandingkan sekolah formal, biaya homeschooling relatif lebih mahal. Hal ini wajar mengingat orang tua harus mempersiapkan segala kebutuhan sendiri mulai dari mencari pengajar, membeli buku/materi, menyediakan fasilitas, membayar biaya lembaga eksternal, dan lain-lain.

Tidak ada subsidi dari pemerintah untuk homeschooling layaknya sekolah negeri. Walau begitu, harga homeschooling tidak selalu mahal. Bahkan ada beberapa biaya yang bisa ditekan, misalnya orang tua tidak perlu membeli seragam sekolah.

Kurangnya Sosialisasi dan Interaksi

Di sekolah formal, anak bisa dengan mudah melakukan interaksi dengan orang lain baik dengan kawan-kawannya yang memiliki latar belakang berbeda-beda, para guru, staff, dan lain-lain. Kesempatan bersosialisasi pun semakin besar. Tak hanya di dalam kelas, mereka pun bisa bersosialisasi pada kegiatan-kegiatan lain di luar kelas.

Keterampilan sosial sangat penting bagi anak karena mereka dapat belajar bekerja sama, menyelesaikan masalah dengan orang lain, dan membuat anak lebih percaya diri. Lalu, bagaimana dengan anak homeschooling? Seperti diketahui, anak homeschooling hanya belajar dengan seorang guru saja.

Walaupun banyak homeschooling dilakukan dengan model komunitas/majemuk di mana ada beberapa anak yang belajar bersama, tetap saja jumlahnya biasanya tak lebih dari 5 orang. Lalu bagaimana kemampuan sosialisasi mereka berkembang?

Isu inilah yang sering menjadi perhatian orang tua. Di sinilah peran orang tua harus dimaksimalkan dalam mengembangkan keterampilan sosial anak. Misalnya, orang tua harus rajin mengajak anak bersosialiasi. Biasanya para orang tua anak homeschooling memiliki komunitas dan mengadakan gathering rutin di mana anak-anak mereka bisa bermain bersama dan saling berinteraksi.

Daya Saing Lemah

Dengan jumlah siswa sedikit atau bahkan anak belajar secara privat saat homeschooling, daya saing mereka menjadi lemah. Padahal, kompetisi bagi remaja sangat penting untuk meningkatkan sportivitas, mengenali potensi diri, dan menciptakan perasaan positif. 

Karena homeschooling SMP berpotensi mengakibatkan daya saing lemah, orang tua harus berusaha ekstra meningkatkan jiwa kompetitif anak. Dengan demikian, proses homeschooling dapat berjalan seimbang. Kemampuan kognitif anak terasah, demikian juga aspek non-kognitif seperti keterampilan sosial dan sifat kompetitif.